Let’s Go Banyuwangi

Let’s Go Banyuwangi

UNWTO (United Nations World Tourism Organization) tentu tidak serta merta mengganjar sebuah kota dengan penghargaan bergengsi. Terdapat syarat khusus dan kriteria yang sangat ketat agar mampu lolos kualifikasi dan memenangkan penghargaan ini. Diikuti pula dengan konsistensi dengan waktu yang tidak sebentar agar didapatnya penghargaan sepadan dengan kerja keras bertahun-tahun. Akhirnya UNWTO Awards for Excellence and Innovation in Tourism kategori Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola berhasil disabet oleh Banyuwangi mengalahkan kota-kota lain dari seluruh dunia. Penghargaan diberikan pada 20 Januari 2016 dalam helatan 12th UNWTO Awards Forum di Madrid, Spanyol.

Pariwisata berbasis masyarakat yang salah satu bentuknya adalah ekowisata adalah pariwisata yang berpihak pada kepentingan publik. Mereka dilibatkan dan mempunyai peran. Secara berdikari mereka percaya diri untuk meningkatkan kemampuan, mengelola sumber daya lokal dan membangun pusat-pusat informasi wisata di tempat mereka masing-masing. Kota kecil di ujung timur Pulau Jawa ini terus berproses menuju industri pariwisata yang baik dengan integrasi yang harmonis antara pelaku swasta dan pemerintah. Perbaikan infrastruktur dan akses ke obyek wisata terus digiatkan. Pembangunan tempat hunian dengan standar kelayakan yang tinggi telah dimulai termasuk membangun pula dormitory atau rumah singgah bagi pelancong serta penambahan fasilitas inap untuk tamu daerah. Ruang terbuka hijau dan halaman depan museum, perpustakaan dan stadion kini menjadi ruang yang bisa dimanfaatkan publik untuk berbagai kegiatan edukatif dan rekreasional. Kegiatan riset, birdwatching dan pengambilan obyek foto merupakan salah satu relung wisata khusus yang mempunyai pasar tersendiri.

Semangat kebersamaan dan kerja gotong royong dari seluruh elemen pariwisata berujung pada penerimaan penghargaan seperti Green Award dan Piala Adipura. Berbagai gelaran event berskala internasional serta dibukanya akses bandar udara termasuk perpanjangan runway dan pembangunan green airport telah menjadi pijakan kokoh untuk mengembangkan pariwisata secara berkelanjutan dengan tetap menjaga lingkungan hidup dan budaya lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Target mendatangkan wisatawan dari berbagai pintu masuk ke Banyuwangi terus disosialisasikan lewat berbagai media promosi demi mendapatkan hasil yang signifikan.

Pada dasarnya pariwisata merupakan perjalanan seseorang atau sekelompok orang dari daerah asalnya ke suatu atau beberapa daerah tujuan wisata (tourist destination area) langsung atau tidak langsung, melalui beberapa daerah persinggahan untuk kembali lagi ke daerah asalnya. Artinya, Banyuwangi memenuhi syarat untuk menjadi tempat kunjungan wisata mengingat begitu banyak daerah persinggahan yang menunjang tujuan wisata utama. Tidak harus mengharap datangnya bule, nyata-nyata datangnya wisatawan domestik dari berbagai provinsi di Indonesia memegang angka kunjungan tertinggi. Dampaknya adalah kunjungan wisatawan ke Banyuwangi menunjukkan tren positif yang berada pada angka 1.701.230 orang untuk wisatawan domestik dan 41.000 turis mancanegara. Data tahun 2015 ini diverifikasi dari hotel dan para pengelola destinasi wisata. Sedangkan angka kunjungan via Bandara Blimbingsari telah menembus 110.234 orang. Para pelancong-pun, yaitu orang yang melakukan perjalanan wisata kurang dari dua puluh empat jam, telah memberikan manfaat bagi banyak pihak.

Baca Juga  Lokasi Kawah Ijen

Kawah Ijen, Plengkung dan Sukamade telah lama menjadi pilihan utama bagi wisatawan untuk mengisi hari liburnya. Bila anda adalah Free Individual Traveler (FIT), maka banyak potensi wisata seputar lereng Gunung Ijen yang bisa dilihat. Anda bisa singgah di Perkebunan Lidjen untuk melihat aktifitas pekebun kopi, karet dan cengkeh, melihat pohon kayu manis serta merasakan aroma khasnya. Aktifitas tersebut bisa pula dilakukan di perkebunan Kalibendo sambil rehat di sungai dan air terjun Kalibendo. Masih satu jalur turun dari Ijen, anda bisa singgah di Desa Kemiren untuk melihat kearifan lokal penduduk dalam menjaga tradisi dan adat budaya dengan berbagai macam bentuknya. Sementara daerah penyangga wisata terus berbenah meningkatkan kualitas pelayanan. Perkebunan kopi Kalibendo dan Desa kemiren adalah contoh daerah penyangga wisata Kawah Ijen. Contoh lainnya adalah Desa Sumberasri sebagai daerah penyangga wisata Taman Nasional Alas Purwo. Ada lagi wilayah Pantai Rajegwesi yang berdekatan dengan dengan Taman Nasional Merubetiri yang terkenal dengan atraksi pendaratan penyu di Sukamade.

Untuk itu, setiap individu yang bergerak di bidang pariwisata mengemban tugas-tugas kehumasan yang sama. Tidak terbatas hanya kerja dari Dinas Pariwisata, namun juga merupakan sinergi kerjasama dari instansi lainnya serta stake holder kepariwisataan. Semuanya bertanggung jawab terhadap public awareness yang proporsional sehingga berdampak pada brand image yang baik dari sebuah destinasi wisata.

  • Bule bukan raja. Kita menghormati mereka sebagai tamu negara yang sedang melakukan kunjungan wisata. Kedatangan wisatawan asing ini jelas mempunyai impact positif dan negatif. Namun kenyataannya, pergerakan (dari, ke, selama di tempat wisata) wisatawan domestik di seluruh Indonesia menempati angka tertinggi dan memberikan nilai profit yang luar biasa, yaitu sebesar 156,89 trilyun sedangkan wisatawan asing sebesar 80 trilyun. Perjalanan wisatawan lokal masih didominasi 7 provinsi yakni Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Sulawesi Selatan (Kompas 7/9/2012)
Share

Recommended Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *